Oleh Entang Sastraatmadja, Anggota Majelis Ahli DPN HKTI
ANTS.CO.ID, JAKARTA -- Artinya dalam mode berarti sedang diminati atau tengah menjadi arus terbaru saat ini. Di dalam penggunaan bahasa informal atau istilah percakapan, "on trend" umumnya dipakai untuk menyebut hal-hal yang saat ini sedang diminati atau modis.
Di dunia jejaring sosial, keadaan yang sedang tren selalu berkaitan dengan hal-hal yang tengah viral atau menjadi pokok bahasan yang diminati serta sering dibincangkan oleh publik.
Swasembada beras yang sedang menjadi tren bisa dimaknai sebagai keberhasilan sementara dalam mencapai kemandirian pangan beras, bukan sebagai hasil yang tetap dan bertahan lama. Secara makna, istilah "on trend" menunjukkan bahwa kondisi tersebut bersifat sesaat atau ikut-ikutan dengan arus terbaru, bukan sebuah prestasi yang mantap dan berkesinambungan.
Ketahanan pangan beras menjadi tren muncul akibat sejumlah faktor. Yang pertama, adanya kebijakan yang tidak stabil. Kebijakan pemerintah yang tidak tetap atau kurang berkelanjutan dapat mengakibatkan ketahanan pangan beras bersifat sementara saja.
Kedua, akibat dari ketergantungan terhadap faktor luar. Ketergantungan terhadap impor maupun unsur-unsur eksternal lainnya bisa menyebabkan ketahanan pangan berupa beras menjadi kurang stabil.
Ketiga, minimnya penginvestasian di bidang pertanian bisa mengakibatkan peningkatan hasil gabah yang tidak begitu besar. Keempat, terdapat dampak dari perubahan iklim.
Perubahan iklim bisa mengganggu produksi padi sehingga membuat kemandirian pangan beras menjadi sulit dipertahankan. Catatan yang penting adalah bahwa keberhasilan swasembada beras dalam tren saat ini muncul akibat gabungan beberapa faktor tersebut.
Kepemimpinan negara ini dalam mencapai kemandirian pangan berupa beras bukanlah sesuatu yang asing. Pada masa Orde Baru, yaitu pada tahun 1984, Indonesia secara perdana memperoleh apresiasi dari Organisasi Perdagangan dan Pertanian Dunia (FAO) karena berhasil meraih status swasembada beras.
Selanjutnya, pada tahun 2023, Indonesia menerima apresiasi dari International Rice Research Institute (IRRI), yang berkaitan dengan kemandirian pasokan beras.
Oleh karena itu, apabila saat ini Pemerintahan Presiden Prabowo menjadikan kemandirian pangan sebagai salah satu prioritas utamanya, sebenarnya tidaklah keliru bagi Partai Gerindra untuk mencontoh keberhasilan swasembada beras yang telah tercapai sebelumnya. Berbagai kalangan menganggap bahwa pencapaian swasembada beras menjadi langkah awal menuju kemandirian pangan secara keseluruhan.
Banyaknya hasil pertanian yang memadai hingga stok beras negara berhasil mencapai jumlah 3 juta ton, serta tidak adanya kebutuhan untuk mengimpor beras mulai tahun 2025, menyebabkan beberapa pihak meyakini bahwa saat ini Indonesia telah kembali mandiri dalam pasokan beras.
Pertanyaan pentingnya adalah, apakah saat ini kita sudah siap menciptakan kemandirian pangan beras yang bertahan lama atau tetap stabil?
Itulah jawaban yang kami cari. Hal ini menarik, mengingat kemandirian pangan berupa beras yang telah dicapai sebelumnya cenderung bersifat sementara atau sedang tren. Maksudnya, pada tahun 1984 kami benar-benar berhasil menciptakan cerita keberhasilan dalam ketahanan pangan, tetapi beberapa tahun setelah itu, sekali lagi kita melakukan impor beras dengan jumlah yang sangat besar. Sebagai akibatnya, negara ini tidak dapat menyatakan diri sebagai produsen beras sendiri.
Sama halnya dengan apa yang terjadi pada tahun 2023. Setelah mendapatkan penghargaan dari IRRI bekerja sama dengan FAO, pemerintah menyatakan berhasil meningkatkan produksi sehingga dapat memenuhi kebutuhan beras nasional. Namun, beberapa waktu kemudian, pemerintah diwajibkan untuk melakukan impor beras lantaran hasil pertanian domestik belum cukup menutupi permintaan pasar dalam negeri.
Perubahan iklim yang memicu fenomena El Niño menyebabkan sejumlah negara kesulitan dalam mencari solusi terbaik untuk mengatasi masalah tersebut. Terlebih lagi bagi negeri kami, yang pada masa itu tengah menjelajahi persiapan menuju penyelenggaraan Pesta Demokrasi. Kembali, Indonesia menghadapi kondisi darurat pengadaan beras. Akibatnya, impor beras menjadi opsi kebijakan yang wajib dipertimbangkan.
Pada tahun 2024, hasil panen padi nasional sangat mengecewakan. Selain kondisi cuaca yang kurang mendukung sektor pertanian, dampak dari kasus korupsi di lingkungan Departemen Pertanian, termasuk keterlibatan Menteri Pertanian pada masa itu, juga dirasakan pada tahun tersebut. Jumlah produksi beras secara keseluruhan mengalami penurunan signifikan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Masih lebih menyedihkan, nyatanya pengimporan beras yang dilakukan oleh kita pada tahun 2024 benar-benar mencatatkan jumlah yang sangat mengesankan. Menurut versi Badan Pusat Statistik (BPS), impor beras pada tahun 2024 melampaui angka 4 juta ton.
Meskipun demikian, beberapa hari sebelumnya, Presiden Jokowi mengungkapkan rasa bahaginya lantaran Indonesia mendapatkan penghargaan berkat cerita kesuksesan dalam mencapai swasembada beras.
Pengalaman seperti ini seharusnya membuat kita menyadari bahwa tugas untuk mencapai kemandirian pangan bukanlah sekadar menjadi sorotan ketika berhasil dicapai, tetapi yang lebih penting lagi ialah menjaga dan mempertahankan hasil yang sudah diraih tersebut.
Kemandirian pangan beras yang dicapai perlu dapat dipertahankan, bukan sekadar menjadi tren sementara saja.
Ketahanan pangan beras sedang tren, semestinya kita hentikan. Kami berupaya cepat mengubahnya menjadi ketahanan pangan beras yang berkelanjutan. Sebagai bangsa perjuangan, kita wajib bekerja keras agar cerita keberhasilan ketahanan pangan beras terus menjadi ciri khas negara kami. Atau: Tren swasembada beras saat ini sebaiknya dihentikan. Kita perlu secepat mungkin memperbaikinya menjadi sistem swasembada beras yang lebih baik dan stabil. Sebagai rakyat tangguh, kita harus bersungguh-sungguh agar pengalaman kesuksesan dalam mencapai swasembada beras tetap menjadi identitas nasional kita. Atau: Saat ini banyak orang membicarakan tentang swasembada beras, namun hal itu patut dipertanyakan. Kita butuh upaya serius untuk menjadikannya sebagai bentuk swasembada beras yang berkualitas dan tahan lama. Dengan spirit juang, kita harus berusaha maksimal agar prestasi tersebut selalu dikenang sebagai ciri khas dari bangsa kita.
Di luar negeri, kemandirian pangan berupa beras yang bertahan dalam jangka panjang disebut sebagai "harga mati" yang harus dipertahankan secara sungguh-sungguh.
0 Komentar