Pagi hari di Yogyakarta, saat sedang mengerjakan tugas perkuliahan, saya sempat melihat akun Instagram. Diantara banyaknya postingan yang muncul, ada satu foto yang berhasil membuatku berhenti menggeser layar ponsel. Foto tersebut menunjukkan perbedaan nuansa warna masa lalu dengan masa kini. Bagian atas menampakkan warna-warna yang lebih hangat dan cerah, sedangkan bagian bawah menampilkan nada yang tampak lebih gelap dan redup. Tengah gambar ini bertuliskan kalimat singkat: "Warna dunia semakin hari semakin memudar."
Kalimat tersebut selalu muncul dalam pikiran saya. Apakah sesungguhnya warna dunia mulai memudar? Kemudian saya membuka album lama yang berisi potret saat saya masih anak-anak dan membandingkannya dengan gambar terbaru saya, tampak adanya perbedaan pada nuansa warna. Meskipun jika dilihat dari segi teknologi, kamera masa kini mestinya dapat menghasilkan gambar yang lebih cerah. Saya mencoba merenung, apakah warna dunia benar-benar semakin redup atau malah kita sendiri yang telah kehilangan cara untuk menyaksikan keindahan itu?
Kali ini topiknya agak berbeda, karena saya bukan lagi membicarakan kemampuan kamera, tetapi tentang manusia yang tiap hari hanya memotret segala bentuk keindahan—keindahan warna, keindahan alam, serta keindahan hasil ciptaan Tuhan—tanpa sadar bahwa mereka belum sepenuhnya merasakan keindahan itu sendiri. Kita hidup dalam era yang memberikan lebih banyak variasi warna dibanding dulu. Layar berkualitas tinggi, filter tak terhitung jumlahnya, dan jutaan foto yang muncul setiap harinya. Yang ironis adalah pada masa seperti ini, dunia malah terasa semakin monokrom.
Pada masa lalu, hal-hal kecil bisa membuat kita sangat kagum Seringkali sesuatu yang sederhana mampu memukau hati kita Waktu dulu, apa pun yang kecil saja sudah cukup untuk mengherankan kita Kebiasaan atau hal-hal mudah dahulu sering kali menimbulkan rasa heran pada diri kita Dulunya, hal-hal sepele bisa menjadi penyebab ketakjuban bagi kita
Dulunya, aku sempat menghabiskan banyak waktu hanya dengan menatapi langit. Aku selalu memperhatikan bentuk awan yang senantiasa berubah-ubah. Terkadang tampak mirip kuda, sesekali seperti naga, dan ada pula yang sekadar gumpalan putih tanpa bentuk pasti. Di malam hari, aku kerap mengamati bintang dalam durasi yang panjang. Pernah suatu ketika aku yakin bahwa bintang-bintang tersebut bergerak mengelilingi langit. Ketika sudah masuk usia remaja, akhirnya aku tahu bahwa yang sebenarnya bergerak ialah Bumi. Yang aneh adalah, pada masa itu aku tak pernah merasa jenuh.
Kini keadaannya sudah berubah. Dahulu saya dapat duduk selama setengah jam memandang langit tanpa mengalami rasa jenuh. Kini, menunggu nasipun hanya lima menit terasa seperti sebuah hukuman. Bahkan menyantap nasi kini dirasakan belum sempurna jika tak disertai tayangan Upin dan Ipin di YouTube. Duduk tanpa melakukan apapun dalam beberapa saat terasa tidak nyaman. Seperti ada kesan bahwa selalu perlu adanya sesuatu untuk dilihat, dibaca, atau dilakukan.
Mungkin dahulu kehidupan lebih mudah saja. Atau mungkin dulu notifikasi WhatsApp belum tahu bagaimana caranya mengambil kemampuan manusia untuk melihat langit dengan mata terbuka.
Akhirnya saya memahami bahwa kita tinggal di era yang sangat senang merekam peristiwa. Hampir segala sesuatu harus difoto. Nyaris setiap pengalaman wajib didokumentasi. Saat makan di lokasi yang indah, yang pertama kali dicari biasanya bukan alat makan tetapi kamera. Ketika berkunjung ke destinasi liburan, banyak orang justru sibuk mencari posisi paling sempurna untuk foto dibanding sekadar menikmati tempat tersebut.
Keindahan senja yang hanya ditangkap sebagai materi konten, tanpa benar-benar dinikmati.
Kejadian serupa juga terjadi saat menyaksikan matahari terbenam. Pernah suatu kali saya sedang berada di tepi laut menjelang malam. Kali itu, saya bersama empat orang teman sekelas melakukan kunjungan ke Pantai Parangtritis. Kami bertolak sekitar jam dua siang dan habiskan waktu sampai sore hari di tempat tersebut. Setiba di pantai, kami menyewa alat transportasi yang umum dipakai untuk keliling area pantai. Saya bahkan lupa apa namanya. Yang jelas, kami sangat gembira dalam perjalanan sambil tertawa dan memotret beberapa gambar.
Setiap sudut tempat kami mengambil gambar selalu terabadikan. Dimulai dari luasnya pasir, suara ombak yang memecah, sampai langit senja yang secara perlahan beralih warna. Terkadang kami berhenti sejenak demi menemukan latar belakang foto yang paling indah. Setelah kembali ke rumah, galery handphone kami sudah dipenuhi oleh dokumen-dokumen hari tersebut.
Namun setelah berpikir kembali, ada hal yang terasa tidak wajar. Memang kami mampu membawa pulang banyak gambar, tapi justru sulit bagi saya untuk mengingat perasaan menyenangkan saat menikmati angin laut pada waktu itu. Yang lebih saya kenang adalah hasil dari foto-foto tersebut dibandingkan dengan suasana di tempatnya. Kami terlalu sibuk merekam Pantai Parangtritis hingga lupa benar-benar merasakan keelokannya.
Tidak masalah jika kita memotret matahari terbenam. Tidak apa-apa juga bila kita menyimpan momen-momen indah dalam bentuk gambar. Saya pun sering melakukan hal tersebut. Namun kadang, saya merasa bahwa orang-orang terlalu fokus pada pengambilan foto, sehingga lupa betul-betul menikmati keelokan alami dari situasi itu. Kami datang untuk menyaksikan matahari terbenam, tapi justru lebih banyak waktu yang digunakan untuk melihat layar ponsel. Kami pergi ke tepian laut agar bisa merasakan atmosfernya, namun malah sibuk berpikir tentang kamera dan unggahan foto yang akan diposting di medsos.
Akhirnya, kami berhasil mendapat gambar yang menarik. Tetapi mungkin tidak selalu menghasilkan pengalaman yang benar-benar dirasakan oleh kami.
Saya juga menyadari kondisi yang sama dalam kehidupan sehari-hari. Banyak dari kami yang kini semakin jarang mengamati hal-hal kecil di lingkungan sekitar. Anak-anak saat ini lebih dekat dengan layar ponsel dibandingkan menikmati langit senja. Para dewasa cenderung lebih banyak memeriksa pesan masuk daripada sekadar melihat pepohonan di tepi jalan. Bahkan saat berjumpa dengan teman-teman, tak jarang semua orang malah sibuk menggunakan perangkat gawainya sendiri-sendiri.
Meski hal-hal kecil seperti melihat langit, berjalan-jalan santai, atau merasakan hembusan angin petang dahulunya dianggap biasa-biasa saja. Kini malah menjadi aktivitas yang jarang dilakukan. Apakah dulunya kehidupan benar-benar lebih sederhana? Atau mungkin pada masa lalu belum ada pemberitahuan WhatsApp yang bisa membuat orang kehilangan kesadaran untuk mengamati langit.
Jumlah Warna di Dunia Tampaknya Menyusut Kekayaan Warna di Seluruh Bumi Mulai Berkurang Pengurangan Nuansa Warnanya Terlihat Jelas Di Alam Semesta Ini Banyak Warana yang Kini Sudah Langka Ditemui Perubahan pada Spektrum Warna Global Membuat Penampilannya Lebih Monoton Tren Peredupan Warna Menghiasi Jagat Raya Saat Ini Keberagaman Hues Pada Permukaan Bumi Mulai Hilang Sudah Tak Sepenuhnya Cerah Lagi Warna-Warninya Dunia Semakin Sederhana dan Kurang Variatif Tampilan Warna di Sekitar Kita Mata Kami Kehilangan Beberapa Elemen Pewarna Alami dalam Lingkungan Sehari-hari
Di pihak lain, saya pun tidak dapat membantah bahwa beberapa aspek dari dunia ini telah berubah. Area hijau terus menyempit. Banyak tanah yang dahulunya ditumbuhi oleh pohon-pohon kini beralih fungsi menjadi struktur bangunan. Pandangan yang dulu sering kali kita temui kini semakin langka. Namun bagi saya, permasalahan tidak hanya sampai disitu saja. Karena sesuatu yang lebih mengecemas kan adalah saat kita kehilangan kemampuan dalam merasakan dan menikmati apa-apa yang masih tersisa.
Makin lama, makin tampak bahwa yang semakin redup bukanlah warna-warna, tetapi kita sendiri? Mungkin saja kita yang kehilangan kemampuan untuk sesekali berhenti dan menyadari keindahan-keindahan yang telah Tuhan ciptakan. Kami terlalu sibuk mencapai tujuan selanjutnya hingga lupa merasakan hal-hal indah yang ada di hadapan kami. Kami terlalu fokus merekam pengalaman hingga lupa benar-benar menjalaninya.
Maka dari itu, dunia terasa makin menghilang. Bukan lantaran warna langit berbeda. Tidak pula karena cahaya matahari kini tak lagi menyinari seperti dahulu. Mungkin saja disebabkan oleh perhatian kita yang mulai terserak ke berbagai hal.
Saya belum sepenuhnya merasa bahwa warna alam semesta makin menghilang. Langit tetap memiliki nuansa biru. Daun-daunan masih tampak hijau. Matahari masih bersinar dengan cahaya yang serupa seperti ratusan tahun silam. Burung-burung masih berkicau saat fajar tiba. Hujan tetap menyemburkan bau tanah yang membuat tenang. Mungkin yang berganti bukanlah dunia itu sendiri.
Mungkin yang berbeda ialah bagaimana kita melihat sesuatu. Kita terlalu sibuk. Terlalu cepat dan terburu-buru. Terlalu dipenuhi dengan data. Hingga tak sadar bahwa kecantikan sering muncul dari hal-hal biasa yang tidak pernah menuntut penghargaan.
Jagat ini tampaknya kehilangan warna, tetapi hal tersebut bukanlah intinya, yang penting adalah bagaimana pandangan kita terhadap dunia semakin menyempit.
Pagi ini, sebelum mengakses Instagram, TikTok, atau WhatsApp, coba luangkan waktu sejenak untuk keluar dari rumah. Amati langit selama beberapa menit. Perhatikan awan yang melintas. Nikmati hembusan angin. Tidak perlu memotret. Tidak perlu merekamnya. Juga tidak perlu unggah ke platform media sosial.
Cukup dilihat.
Pertama kali rasanya membosankan. Tangga kita secara alami cenderung ingin mengambil handphone dan memeriksa notifikasi yang datang. Hal ini wajar terjadi. Kita telah sangat terbiasa hidup bersama layar, bahkan kadang lima menit tanpa melihat ponsel terasa lebih panjang dibandingkan lima menit antri di kasir toko kelontong.
Terkadang, tidak apa-apa jika kita menyisihkan sedikit waktu hanya untuk benar-benar menghadiri keberadaan kita saat ini. Menikmati suatu hal tanpa terlalu khawatir tentang bagaimana foto akan tampak. Mengamati pemandangan tanpa selalu mencari kata-kata yang tepat sebagai judul unggahan. Mencatat sebuah momen dalam pikiran tanpa merasa wajib menceritakan semuanya pada orang lain.
Jika akhirnya langit tetap tampak biru, pepohonan dan daun-daun masih berkibas tertimpa angin, serta burung sering kali melewati atas kepala kita, artinya dunia belum sepenuhnya kehilangan kerennya. Kecantikan-kecantikan halus tersebut masih tersedia di sekeliling kita. Yang terjadi adalah, selama ini kita terlalu sibuk menatapi layar hingga lupa mengamati apakah yang ada di hadapan kita.
Mungkin saja yang semakin pudar bukanlah warna dunia, tetapi kemampuan kita untuk sesekali menghentikan diri, memperhatikan, serta merasakan keindahan hal-hal biasa yang masih selalu ada di sekitar kita tiap harinya. Dari sinilah warna-warna yang tampaknya telah hilang mulai dapat ditemukan lagi. Keterampilan dalam memperhatikan, menikmati, dan tak pernah lupa untuk bersyukur.
0 Komentar