Ants - Rekaman video terbaru menimbulkan amarah masyarakat setelah menampilkan momen-momen sebelum seorang anak laki-laki Palestina berumur tujuh bulan meninggal akibat tembakan dari tentara Israel di Wilayah Tenggara yang diduduki. Video ini disebut bertentangan dengan pernyataan militer Israel sebelumnya bahwa mobil keluarga korban sedang menuju ke arah pasukan pada saat kejadian itu terjadi.
Saksi bernama Sam Abu Haikal, seorang balita berumur tujuh bulan yang sedang dipeluk oleh ibunya di bangku belakang kendaraan keluarganya. Peluru dari pasukan Israel tidak hanya mengambil nyawa Sam, tapi juga menyebabkan luka pada kedua orangtuanya, yaitu Daniyah Abu Haikal dan Fahed Abu Haikal.
Peristiwa yang terjadi di kawasan Hebron segera menimbulkan banyak protes lantaran dikabarkan anggota keluarga tersebut patuh pada instruksi militer untuk berhenti melanjutkan perjalanan kendaraannya.
Dilansir via Guardian Pada hari Kamis (11/6), tentara Zionis Israel sebelumnya mengklaim bahwa pasukan mereka melepaskan tembakan karena merasa mobil yang mendekat sedang melaju ke arah posisi mereka.
Angkatan Bersenjata Israel (IDF) menyebutkan bahwa pasukannya "mengamati sebuah kendaraan yang bergerak mendekat kepada mereka", akibatnya seorang anggota militer menembak sekali ke arah mobil itu.
Namun, hasil rekaman dari lembaga hak asasi manusia Israel, B'Tselem, memperlihatkan pandangan yang berbeda.
Di dalam pernyataannya, B'Tselem menyampaikan bahwa rekaman video itu menunjukkan bahwa mobil keluarga Abu Haikal pada dasarnya melambat kecepatannya sebelum akhirnya terhenti.
"Rekaman tersebut secara jelas menampilkan bahwa pasukan Israel melepaskan tembakan ke mobil saat kendaraan melambatkan kecepatannya untuk berhenti," ujar B'Tselem.
Kendaraan tersebut berjarak cukup jauh dari pasukan militer dan sama sekali tidak membahayakan mereka.
Penemuan ini mendukung pernyataan keluarga korban yang telah lama menolak klaim tentara Israel.
Di video lain yang dipublikasikan oleh B'Tselem, ayah dari korban, Fahed Abu Haikal, tampak memangku anaknya yang tertutup darah usai diseruduk peluru. Dia mencoba mencegah aliran darah dari kepalan Sam dengan tangan sendirinya.
Fahed menerangkan bahwa peluru masuk ke tangan dia terlebih dahulu sebelum menyentuh bayi yang sedang dipangku oleh ibunya di bangku belakang.
Saat keluarga itu melakukan perjalanan bersama anak laki-lakinya yang berusia 11 tahun dan Nenek Sam, mereka diberhentikan oleh pasukan Israel di tengah jalan.
Dalam wawancara dengan surat kabar Israel Haaretz, Fahed menyampaikan bahwa ia sudah mengikuti semua perintah yang diberikan.
Tentara memberi aba-aba supaya saya berhenti. Saya memperlambat mobil hingga benar-benar berhenti dan mengangkat tangan ke atas kemudi. Tidak lama kemudian, mereka melepaskan tembakan kepada kendaraan kami," katanya.
Dia menyatakan bahwa tidak terdapat titik pemeriksaan yang sah di tempat kejadian.
Saya menghentikan kendaraan sesuai perintah, kemudian mereka langsung melepaskan tembakan ke arah mobil. Tidak terdapat pos pemeriksaan yang jelas, hanya pasukan militer yang berada di tengah jalan. Saya melambatkan laju saat diperintahkan, dan seketika tembakan mulai dilakukan," kata Fahed.
Berdasarkan pendapat Fahed, kendaraan benar-benar diam saat peluru ditembakkan.
"Ia benar-benar tak bergerak saat membidik kami, bahkan sama sekali tidak bergeser," kata dia.
Dengan nada sedih, dia memperingati anak laki-lakinya yang tewas sebagai korban. "Bayi berumur tujuh bulan dibunuh secara kejam. Ia tidak layak menderita seperti itu."
Pasukan Dikatakan Tidak Menyelamatkan Angkatan Bersenjata Dianggap Tidak Membantu Militer Disebut Tidak Melakukan Bantuan Prajurit Dinilai Tidak Mengambil Langkah Penyelamatan Kekuatan Militer Terlihat Tidak Memberikan Bantuan
Video yang sama juga menampilkan kejadian sesudah penembakan berlangsung. Berdasarkan laporan B'Tselem, pasukan Israel tidak memberikan pertolongan kepada korban yang cedera.
Di sisi lain, masyarakat sipil yang berada dekat lokasi tampak buru-buru membantu bayi serta kedua orangtuanya. Foto-foto tersebut semakin menguatkan kritikan dari organisasi-organisasi hak asasi manusia yang telah lama menyampaikan kecaman atas tindakan pasukan Israel terhadap penduduk Palestina di daerah pendudukan.
Berdasarkan data PBB, lebih dari 1.000 penduduk Palestina meninggal dunia di wilayah Tepi Barat serta Yerusalem Timur sejak konflik Gaza meletus bulan Oktober tahun lalu.
Sebanyak 240 korban di antaranya adalah anak-anak. Di sisi lain, organisasi Hak Asasi Manusia Israel Yesh Din menyatakan bahwa prajurit Israel yang diperkirakan melanggar aturan terhadap penduduk Palestina jarang mendapatkan hukuman.
Laporan mengenai dugaan pelanggaran yang disampaikan selama periode tahun 2016 sampai dengan 2024 mencapai jumlah total sebanyak 2.427 kasus, namun data organisasi menyebutkan bahwa hanya sedikit lebih dari satu persen di antaranya akhirnya mendapat tuntutan hukum.
0 Komentar