Kekuatan Menengah di Era Perang Modern

ANTS.CO.ID, JAKARTA -- Majalah the Economist Edisi tanggal 30 Mei hingga 5 Juni 2026 menyajikan artikel mendalam tentang transformasi bentuk perang abad ini. Argumen utamanya sangat menarik: wajah perang modern telah mengalami perubahan besar. Pesawat tanpa awak, satelit, dan alat pemantau, artificial intelligence , dan serangan presisi (precision strike) Memang menyebabkan perang menjadi lebih merusak. Namun, kemajuan teknologi tidak selalu memudahkan pencapaian kemenangan. Justru, perang semakin sulit untuk dimenangkan dari sudut pandang politik.

Argumen ini semakin kuat ketika dilihat dari Perang Rusia-Ukraina. Rusia tiba dengan pasukan militer yang besar serta alutsista canggih, namun perang malah berkembang menjadi pertarungan yang bertahun-tahun, menyebabkan penghabisan sumber daya sekaligus munculnya tekanan politik baru baik di dalam maupun luar wilayah Rusia. Ukraina membuktikan bahwa gabungan pesawat tanpa awak murah, informasi dari satelit, serta bantuan teknologi dari barat dapat berhasil menghadapi kekuatan militer yang lebih unggul secara tradisional. Keadaan serupa juga tampak pada konflik antara Amerika Serikat/Israel versus Iran di Timur Tengah. Walaupun berbagai penyerangan akurat dan operasi menggunakan teknologi maju telah dilaksanakan, menciptakan stabilitas daerah masih sangat rumit dikarenakan konflik ini terus-menerus memberikan dampak politik dan psikologis yang luas.

Peristiwa ini membuktikan bahwa kemenangan dalam bidang militer tidak selalu berdampak pada kemenangan politik. Bahkan sebuah negara yang memiliki teknologi tercanggih pun masih bisa mengalami tantangan saat mencoba mengubah kemenangan di lapangan tempur menjadi kondisi stabilitas jangka panjang. Suatu negara mungkin berhasil merusak sasaran musuh, menduduki area tertentu, atau merebut banyak kemenangan dalam peperangan. Tetapi hal tersebut belum pasti menyebabkan akhirnya konflik lebih cepat atau menjadikan suasana politik lebih tenang.

Banyak kali, teknologi canggih malah memperpanjang perpecahan. Pesawat tanpa awak yang terjangkau, precision strike , cyber warfare dan kemampuan penyesuaian teknologi membuat pihak yang kurang kuat masih bisa bertahan serta melanjutkan perlawanan. Sebagai akibatnya, peperangan berubah menjadi bentuk konflik yang panjang dan melelahkan bagi keduanya dalam hal ekonomi, sumber daya, logistik, maupun stabilitas politik.

Di dalam artikel yang berjudul "Teknologi Lebih Cerdas Membuat Perang Jadi Pilihan yang Kurang Bijak" dan "Perang Modern", The Economist mengatakan bahwa perang pada masa kini lebih gampang dipicu, namun jauh lebih rumit untuk dihentikan.

Namun yang menjadi pertanyaan krusial ialah: apakah negara-negara besar benar-benar mempelajari pelajaran untuk bersikap lebih waspada serta menjauhi konflik militer setelah menyaksikan transformasi bentuk perang zaman now?

Tidak pasti. Stephen Walt, dosen ilmu politik internasional dari Universitas Harvard, juga menyampaikan dalam tulisan di Foreign Policy (2 Maret 2026), bahwa Amerika Serikat masih mengalami "ketergantungan pada perang". Bukan berarti semua tokoh pemerintahan AS ingin adanya perselisihan, melainkan sistem otoritas yang ada di Washington—yang mencakup dominasi militer, kompleks industri pertahanan, serta keyakinan bahwa Amerika senantiasa harus melakukan tindakan tertentu—membuat alternatif militer terus tampak menarik dalam setiap situasi kritis global.

Sebagai akibatnya, walaupun pengalaman yang dialami oleh Afghanistan, Irak, serta saat ini Iran membuktikan adanya batasan-batasan dalam pemanfaatan kekuatan militer, niat untuk melakukan intervensi masih sangat dominan dalam strategi diplomatik AS. Teknologi canggih sering kali menciptakan kesan bahwa peperangan bisa dilakukan dengan cepat, tepat sasaran, hemat biaya, dan mengurangi risiko kerugian politik. Namun pada kenyataannya, situasi nyata di medan operasi biasanya jauh lebih kompleks dan sulit dikontrol.

Rusia sepertinya masih belum mengambil hukuman yang serupa. Apa yang dipahami Moskow dari Ukraina malahan tentang cara beradaptasi dalam konflik bersenjata jangka panjang: meningkatkan produksi pesawat tanpa awak, memperkuat electronic warfare mengembangkan sektor keamanan, serta merombak struktur perekonomian menjadi war economy. Secara singkat, Rusia mempelajari cara berperang secara lebih efisien, bukan bagaimana menghindari konflik.

Tiongkok juga meninjau perang modern dengan sungguh-sungguh, khususnya dalam konteks Taiwan. Tampaknya Beijing menyadari bahwa invasi amphibious ke Taiwan akan sangat mahal serta penuh tantangan. Tetapi pengambilan pelajaran tersebut tidak selalu berarti mengurangi tekanan paksa. Justru sebaliknya, Tiongkok semakin giat melaksanakan penekanan militer bertingkat, operasi hijau abu-abu, cyber warfare dan pameran kekuatan di sekitar Taiwan serta Laut Tiongkok Selatan.

Oleh karena itu, dunia sepertinya tengah memasuki kondisi yang kontradiktif. Banyak negara besar pada dasarnya menyadari bahwa perang modern semakin mahal, lebih susah diatur, serta makin sukar memberi keuntungan politik yang jelas. Akan tetapi, pengetahuan tersebut belum secara langsung mencegah mereka untuk terlibat dalam peperangan. Justru, negara-negara besar masih bersaing dalam merancang teknologi militer canggih dan meningkatkan kemampuan bela dirinya lantaran khawatir ketinggalan dibanding lawan-lawannya.

Dalam kondisi semacam ini, pelajaran yang bisa diambil oleh negara-negara menengah seperti Indonesia sangat bernilai. Indonesia tidak memiliki minat atau kapasitas untuk ikut serta dalam politik perang sebagaimana dilakukan oleh negara-negara besar. Mengingat wilayahnya yang tersebar di pulau-pulau dan anggaran militer yang terbatas, Indonesia justru harus fokus pada pembentukan... deterrence yang pintar, bersikap defensif, serta terjangkau secara relatif.

Maknanya, Indonesia tidak perlu mencari kemampuan militer untuk bertindak agresif di luar wilayahnya seperti negara-negara besar. Lebih utama ialah memperkuat kapasitas defensif sehingga siapa saja akan ragu-ragu sebelum menyentuh kedaulatan Indonesia. Di era perang modern, deterrence bukan lagi ditentukan secara utama oleh banyaknya tank, kapal perang, atau pesawat tempur bernilai tinggi. Yang kini lebih berpengaruh adalah kemampuan untuk membuat musuh menghadapi biaya yang tinggi dengan menggunakan sistem perlindungan yang fleksibel, menyebarkan diri, serta sukar dikalahkan.

Oleh karena itu, pendekatan pertahanan Indonesia harus lebih fokus pada penolakan maritim dan archipelagic "porcupine" strategy (Strategi landak dengan duri tajam) Indonesia tidak perlu menjadi kekuatan militer besar, namun harus menjadi negara yang sukar diserang baik dari segi laut maupun udara. Perhatian utama bukan pada kapasitas serangan jarak jauh, melainkan kemampuan menjaga wilayah secara efisien menggunakan gabungan pesawat tanpa awak hemat biaya, radar, rudal pertahanan pesisir, serta kemampuan pengawasan dan pemahaman terhadap semua aktivitas dalam kawasan laut nasional. maritime domain awareness ), cyber defence, electronic warfare , serta pengamanan choke points strategis.

Pembelajaran dari Ukraina mengungkapkan bahwa platform yang mahal dan berskala besar belum tentu menentukan keberhasilan suatu perang. Senjata canggih seperti tank modern, kapal perang raksasa, serta pengumpulan pasokan logistik justru semakin rentan terhadap serangan pesawat tak berawak murah dan penyerangan tepat sasaran. Oleh karena itu, untuk negara-negara dengan status tengah seperti Indonesia, fokus berlebihan pada sistem senjata bergengsi dapat menyebabkan biaya tinggi namun kurang efektif. Lebih utama lagi ialah kemampuan integrasi sistem, fleksibelitas, ketahanan logistik, serta mampunya menjaga kelangsungan operasi di bawah tekanan konflik yang panjang.

Di bawah situasi ini, diplomat menetap sebagai barisan depan perlindungan keamanan nasional Indonesia. Kebijakan luar negeri bebas aktif semakin penting dalam menghadapi persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang kian memanas. Indonesia tidak perlu menjadikan pihak mana pun sebagai aliansi utamanya, namun juga tidak boleh bersikap terlalu lemah hingga rentan dimanipulasi oleh siapa saja.

ASEAN masih memiliki peranan yang signifikan bagi Indonesia, walaupun terkadang dinilai lambat dan tidak berani mengambil keputusan. Dalam situasi persaingan geopoli tik yang semakin memanas, ASEAN tetap menjadi sarana untuk melakukan dialog, confidence-building dan kestabilan yang minimal sehingga Southeast Asia tidak mudah terlibat dalam medan pertarungan langsung antara negara-negara besar. Bagi middle powers sebagaimana di Indonesia, kehadiran wilayah yang cukup aman memiliki peranan strategis yang sangat menonjol.

Oleh karena itu, visi strategis Indonesia sebaiknya tidak berupa sebuah negara yang ditakuti. Tujuan kami ialah menjadi negara yang dihormati dan sukar dikendalikan. Pada masa perang saat ini, kemampuan untuk bertahan dengan bijaksana terkadang jauh lebih bermakna daripada kekuatan ofensif yang mencolok.

Akhirnya, ini mungkin pelajaran paling penting dari perang abad modern. Meskipun teknologi telah meningkatkan daya hancur yang lebih maju, mencapai kemenangan politik menjadi semakin rumit. Di dunia demikian, kecerdasan strategis tidak lagi berada dalam kemampuan untuk memicu konflik, tapi dalam kemampuan menghindari peperangan sekaligus mempertahankan kepentingan negara.

Posting Komentar

0 Komentar