Ringkasan Berita:
- SMK Negeri 1 Kutacane menolak empat peserta didik baru untuk tahun pelajaran 2026 lantaran gagal dalam kemampuan membaca.
- Penemuan tersebut menimbulkan kekhawatiran terkait mutu pendidikan dasar dan menengah di daerah Aceh Tenggara.
- Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tenggara akan melakukan penyelidikan mengenai latar belakang sekolah dari para calon peserta didik tersebut.
- Ketua Universitas Gunung Leuser mengusulkan agar lembaga pendidikan menyediakan bimbingan khusus daripada menolak para murid.
- SMKN 1 Kutacane memiliki kapasitas sebanyak 324 peserta didik untuk keenam program keahlian yang tersedia.
Jurnalis Tribun Gayo Asnawi Luwi | Aceh Tenggara
Ants, KUTACANE - Empat peserta yang mendaftar sebagai calon siswa dan siswi di SMK Negeri 1 Kutacane harus ditolak oleh panitia Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) pada tahun 2026.
Tindakan keras ini dilakukan karena empat calon siswa diduga masih tidak mampu dalam kemampuan membaca.
Gagalnya menyelesaikan keterampilan membaca, menulis, dan menghitung (calistung) pada jenjang SMP atau yang setara disebut sebagai sesuatu yang sangat menyedihkan.
Sebenarnya, keterampilan dasar ini adalah pondasi pokok yang diperlukan anak dalam membangun kemampuan berpikir, komunikasi, serta logika, sekaligus sebagai persiapan penting dalam menjalani pendidikan resmi.
Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Kutacane, Sabri, S.Pd., bersama panitia SPMB, Syukur Pujianto, menghadap kepada Ants Pada hari Rabu (10 Juni 2026), mengonfirmasi hal tersebut.
"Pendaftaran secara daring dibuka mulai tanggal 30 Maret sampai 30 April 2026. Sekitar empat calon siswa yang ingin masuk ke SMKN 1 Kutacane harus ditolak oleh kami karena tidak bisa membaca," kata Sabri.
Sayangnya, Kepala Sekolah tidak menjelaskan secara rinci letak atau asal sekolah keenam belas calon siswa tersebut.
Sayangnya, dalam proses wawancara seleksi tersebut, terdapat beberapa calon peserta didik yang ternyata tidak bisa menyampaikan dua kalimat syahadat dengan benar.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tenggara akan memeriksa asal sekolah siswa.
Menangapi penemuan yang tak terduga tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Aceh Tenggara, Julkifli, S.Pd., M.Pd., menyatakan bahwa mereka tidak akan mengabaikan situasi ini.
Mereka berniat menyelidiki dari manakah asal sekolah para peserta didik yang tidak bisa membaca dan menulis itu.
"Pihsa mereka akan memeriksa asal sekolah. Kemudian, kemampuan dasar tersebut sesungguhnya harus selesai," tegas Julkifli singkat ketika ditanya.
Ketua Universitas Gadjah Mada (UGM): Jangan menolak, kembangkan secara spesifik
Di sisi lain, Pakar Pendidikan sekaligus Rektor Universitas Gunung Leuser (UGL) di Kutacane, Dr. Indra Utama, S.Pd., M.Pd., turut menyampaikan pendapatnya terkait peristiwa tersebut.
Menurut dia, kemunculan siswa yang kesulitan dalam membaca disebabkan oleh kurangnya pengawasan internal di sekolah tempat mereka belajar dulu. Keadaan ini membuat target penguasaan Calistung—yang semestinya telah mencapai standar pada jenjang SD atau SMP—malah berlanjut sampai tingkat SMA.
Namun, Rektor UGL mengusulkan kepada pihak sekolah menengah yang dituju untuk tidak segera menolak siswa-siswa tersebut.
"Kita tidak boleh saling menyalahkan, tetapi sebaiknya mencari cara penyelesaian. Jika ia ingin masuk ke sekolah tujuannya, jangan ditolak, berilah kesempatan baginya untuk belajar sesuai tempat yang ia inginkan. Karena mereka masih mungkin diasuh atau diberi pendampingan khusus (pembelajaran remedial)," ujarnya.
Dia menyoroti peranan penting dari program bimbingan dan konseling (BK/BS) di lingkungan sekolah guna mengatasi siswa yang kesulitan dalam proses belajar, terutama mereka yang masih belum mampu membaca dengan baik.
Sebagai bentuk refleksi, Dr. Indra Utama berbagi cerita tentang pengalaman pribadinya pada tahun 2008 lalu, ketika dirinya sempat menghadapi seorang mahasiswa yang kesulitan dalam memahami bacaan.
Namun dengan bimbingan intensif yang terus-menerus, mahasiswa itu berhasil menyelesaikan tugas akhirnya dan sekarang sudah lulus sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di daerah lain.
Pembagian Kuota Penerimaan dan Mekanisme Tanpa Batasan Wilayah di SMKN 1 Kutacane Jumlah Calon yang Diterima serta Cara Penentuan Tanpa Ketergantungan Daerah di SMKN 1 Kutacane Batas Jumlah Peserta Didik Baru dan Sistem Tidak Terbatas oleh Wilayah di SMKN 1 Kutacane Penetapan Kuota Masuk dan Pola Akses Bebas Zona di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Kutacane Tata Cara Pengambilan Siswa dan Pendekatan Tak Berdasarkan Area di SMKN 1 Kutacane
Di pihak lain, Sabri mengatakan bahwa dalam SPMB tahun ini, SMKN 1 Kutacane menyiapkan tempat sebanyak 9 kelas (lokal).
Dalam perbandingan, pada tahun ini sekolah vokasi itu luluskan total 306 murid dari 13 kelas.
Berikut ini merupakan data statistik calon peserta SPMB SMKN 1 Kutacane untuk tahun 2026 secara lengkap:
- Jumlah Peserta yang Mendaftar Secara Online: 505 orang (melalui akun pribadi masing-masing).
- Lolos Administrasi: 347 orang.
- Jumlah Peserta: 324 orang.
Ketika diberi penjelasan, tahap pengambilan tes wawancara untuk siswa yang telah lolos seleksi ternyata telah berlangsung selama empat hari.
Sabri juga menyatakan bahwa proses pendaftaran di SMKN 1 Kutacane tidak menggunakan sistem zona dikarenakan sifat sekolah vokasional yang berbeda dibandingkan SMA umum.
Sekarang ini, SMKN 1 Kutacane menyediakan 6 program keahlian utama, yakni:
- Akuntansi
- Pemasaran
- Administrasi Perkantoran
- Kecantikan
- Teknik Komputer Jaringan (TKJ)
- Desain Komunikasi Visual (DKV).
Karena itu, sekolah menyediakan kesempatan pendaftaran yang luas kepada semua tamat SMP setara di kawasan Bumi Sepakat secara utuh.
"Maka, semua siswa dan siswi yang berasal dari Lawe Pakam sampai dengan Rumah Bundar, kami menerima pengajuan pendaftaran di sekolah ini," ujar Sabri.
Sebagai tambahan informasi, SMK Negeri 1 Kutacane terletak secara strategis di Jalan Louser Nomor 196, Komplek Pelajar, Desa Gumpang Jaya, Kecamatan Babussalam, Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh. (*)
0 Komentar